
Prime Plaza Hotel, Sanur, Bali | 27–29 Oktober 2026
Catatan pembelajaran dibuat
oleh
AGUNG YUNANTO – Head of Expert Council AMMPI
Sebuah Pengalaman Berharga: Belajar dari Praktik Terbaik Kawasan Asia Pasifik
Apa yang membuat sebuah organisasi mampu mempertahankan daya saing dan terus bertumbuh di tengah perubahan teknologi, persaingan bisnis, dan ketidakpastian lingkungan usaha yang semakin dinamis?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu benang merah pembelajaran dalam 31st APQO International Conference 2026 yang diselenggarakan di Prime Plaza Hotel, Sanur, Bali, pada 27–29 Oktober 2026.
Konferensi internasional yang mempertemukan para profesional di bidang mutu, peneliti, praktisi, dan pemimpin industri dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik ini menghadirkan berbagai pengalaman dan praktik terbaik dalam penerapan Artificial Intelligence (AI), inovasi, transformasi digital yang berpusat pada manusia, serta pengembangan Quality Excellence.
Bagi saya, konferensi ini bukan sekadar forum untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Lebih dari itu, terdapat kesempatan berharga untuk melihat bagaimana organisasi di berbagai negara merespon perubahan dan menerjemahkan perkembangan teknologi menjadi keunggulan bisnis yang nyata.
Dari berbagai presentasi yang disampaikan, saya menangkap satu pesan penting:
Teknologi membuka peluang baru, tetapi manusia, kepemimpinan, inovasi, dan sistem manajemenlah yang menentukan apakah peluang tersebut dapat menghasilkan keunggulan bisnis yang berkelanjutan.
Berikut beberapa pembelajaran penting yang saya peroleh dari para pembicara.
- Insight dan Pembelajaran dari Para Pembicara
- Artificial Intelligence Mengubah Paradigma Manajemen Mutu
Wang Shengqi dari China Association for Quality (CAQ), dalam presentasinya “Quality in the Digital Age: New Management and New Practices”, memperlihatkan bagaimana Artificial Intelligence (AI) dan Big Data mulai mengubah praktik manajemen mutu.
Jika selama ini inspeksi mutu lebih banyak dilakukan untuk menemukan ketidaksesuaian setelah proses produksi berlangsung, pemanfaatan AI memungkinkan perusahaan bergerak menuju sistem pengendalian mutu yang lebih cerdas dan prediktif.
Beberapa penerapannya meliputi:
- Smart inspection melalui teknologi AI.
- Real-time monitoring untuk memantau mutu proses.
- Predictive Quality Management untuk mengantisipasi potensi permasalahan mutu sebelum terjadi.
Salah satu contoh menarik adalah penerapan teknologi di smart factory Xiaomi, yang memperlihatkan bagaimana inspeksi berbasis AI dan pengambilan keputusan berbasis data dapat meningkatkan efektivitas proses manufaktur.
Pembelajaran penting: Masa depan manajemen mutu bukan hanya tentang, tetapi juga tentang kemampuan memprediksi dan mencegah terjadinya kesalahan.
- Quality Bukan Lagi Sekadar Compliance, tetapi Strategic Differentiator
Sid Bhatnagar, Chief Executive Officer American Society for Quality (ASQ), mengangkat perubahan paradigma mengenai peran mutu dalam bisnis global melalui presentasinya “The Evolving Role of Quality”.
Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah bahwa mutu tidak lagi cukup diposisikan sebagai fungsi kepatuhan terhadap standar (compliance) atau sekadar upaya mengurangi risiko operasional.
Mutu harus menjadi bagian integral dari strategi bisnis dan sumber penciptaan nilai bagi pelanggan.
Dalam konteks ini, muncul sebuah pemahaman baru: QUALITY AS STRATEGIC DIFFERENTIATOR.
Berdasarkan riset Insights on Excellence (IoE) yang dipaparkan, sebanyak 86% organisasi secara global telah menetapkan mutu sebagai objektif bisnis yang eksplisit. Namun, tantangan finansial akibat buruknya mutu masih dirasakan oleh 89% organisasi.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mutu telah memperoleh perhatian strategis, masih terdapat kesenjangan antara komitmen dan hasil implementasinya.
Tantangan lain adalah memastikan kesiapan tenaga kerja masa depan (future-ready workforce), khususnya dalam penguasaan analitik data dan AI, serta memastikan indikator kinerja mutu benar-benar selaras dengan strategi bisnis.
Pembelajaran penting: Mutu harus mampu memberikan kontribusi nyata terhadap kepuasan pelanggan, efisiensi biaya, pertumbuhan bisnis, dan keunggulan kompetitif perusahaan.
- Transformasi Digital Harus Tetap Berpusat pada Manusia
Kamaruzaman Jahidin dari Malaysia menyampaikan perspektif menarik mengenai pentingnya pendekatan human-centered dalam transformasi digital.
Beliau memperkenalkan rumusan:
EXCELLENCE = HUMAN RESOURCES × INTELLIGENCE × INNOVATION
Pesan ini mengingatkan kita bahwa keunggulan organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Mutu sumber daya manusia, kecerdasan dalam mengolah informasi, serta kemampuan menghasilkan inovasi merupakan faktor yang saling memperkuat.
Beliau juga memperkenalkan kerangka DIKAY:
Data → Information → Knowledge → Action → Yield
Kerangka ini memberikan pelajaran sederhana tetapi sangat penting.
Banyak organisasi telah mengumpulkan data, menghasilkan berbagai laporan, dan membangun dashboard kinerja. Namun, semua itu tidak akan memberikan nilai tambah apabila tidak diterjemahkan menjadi pengetahuan, tindakan nyata, dan hasil yang terukur.
Dengan kata lain, keberhasilan transformasi digital bukan diukur dari banyaknya data yang dimiliki atau teknologi yang digunakan, melainkan dari seberapa jauh semuanya mampu memperbaiki keputusan dan menghasilkan kinerja bisnis.
Pembelajaran penting: Data bukanlah tujuan akhir. Data harus menjadi dasar pengambilan keputusan dan tindakan perbaikan.
- Sistem Manajemen Mutu Harus Menghasilkan Perbaikan Nyata
Sonja McFarlane memberikan perspektif praktis mengenai bagaimana menjadikan Quality Management System (QMS) lebih efektif.
Sistem Manajemen Mutu seharusnya tidak berhenti pada pemenuhan persyaratan akreditasi, sertifikasi, maupun dokumentasi prosedur.
Yang lebih penting adalah bagaimana sistem tersebut benar-benar bekerja dalam menjaga dan meningkatkan kinerja organisasi.
Beberapa aspek yang ditekankan meliputi:
- Audit internal yang bermakna dan mampu mengidentifikasi peluang perbaikan.
- Corrective action yang efektif untuk mengatasi akar permasalahan.
- Pelatihan dan pembelajaran berkelanjutan.
- Management review yang mendorong keputusan dan tindak lanjut nyata.
Pesan ini relevan bagi perusahaan yang telah memiliki berbagai sertifikasi sistem manajemen, tetapi masih menghadapi tantangan dalam memastikan efektivitas implementasinya.
Pembelajaran penting: Sistem Manajemen Mutu yang baik bukan sekadar sistem yang memenuhi standar, tetapi sistem yang benar-benar menghasilkan peningkatan kinerja secara berkelanjutan.
- AI Membuka Peluang Baru bagi Quality dan Operational Excellence
Ardi Sastrohartoyo, mewakili Australian Organisation for Quality Ltd (AoQ), melalui presentasinya “Exploring AI in Manufacturing: Opportunities for Quality and Operational Excellence”, memberikan gambaran mengenai besarnya peluang pemanfaatan AI dalam meningkatkan produktivitas, mutu, dan keunggulan operasional.
AI memungkinkan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu, sumber daya, dan keahlian khusus untuk dilakukan secara lebih cepat dan efektif.
Namun, ada tiga pesan praktis yang sangat menarik:
- Start with Business Problems, Not Technology. Mulailah dari permasalahan dan peluang bisnis yang ingin diselesaikan, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.
- Move from Insights to Actions. Manfaatkan AI, termasuk Agentic AI, untuk mendukung pengambilan keputusan, mengotomatisasi alur kerja, dan mempercepat peningkatan operasional.
- Build Trust through Governance. Pemanfaatan AI harus didukung tata kelola yang bertanggung jawab, data yang dapat diandalkan, transparansi, akuntabilitas, serta pengawasan manusia.
Satu pertanyaan reflektif yang menarik dari presentasi ini adalah:
Apakah kita hanya akan menjadi pengguna teknologi yang mengikuti perubahan, atau menjadi organisasi yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan keunggulan baru?
Pembelajaran penting: Peluang sesungguhnya bukan hanya memahami AI, tetapi mengintegrasikannya ke dalam proses bisnis untuk menghasilkan nilai tambah yang terukur.
- Refleksi Pribadi: Innovation Must Be Managed as a System
Dalam kesempatan tersebut, saya memperoleh kehormatan untuk mewakili Indonesia Quality and Productivity Management Association (AMMPI/IQPMA) dan berbagi pengalaman melalui presentasi berjudul: “The SIM Framework: Driving Innovation for High-Impact Growth and Corporate Competitive Advantage.”
Presentasi ini merupakan hasil pembelajaran dari praktik inovasi di sembilan perusahaan besar di Indonesia, sekaligus refleksi atas sebuah tantangan yang dikenal sebagai The Innovation Paradox.
Riset McKinsey yang saya rujuk menunjukkan bahwa 84% eksekutif mengakui inovasi sangat penting bagi keberhasilan strategi pertumbuhan perusahaan. Namun, 94% di antaranya belum puas dengan hasil inovasi yang dicapai.
Angka tersebut memberikan sebuah pertanyaan penting: Jika inovasi sudah dianggap sangat penting oleh para pemimpin perusahaan, mengapa hasilnya belum sesuai dengan harapan?
Berdasarkan pengalaman dan pembelajaran tersebut, saya melihat bahwa salah satu tantangan mendasar adalah bagaimana mengelola inovasi agar tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, proyek perbaikan, atau inisiatif yang hanya bergantung pada kreativitas individu tertentu.
Inovasi harus menjadi bagian dari sistem manajemen perusahaan dan terintegrasi dengan strategi bisnis.
Inilah gagasan utama yang mendasari pengembangan Structural Innovation Management (SIM) Framework.
SIM menekankan lima pilar yang harus bekerja secara terintegrasi.
Pilar 1. Strategy Integration – Inovasi Harus Terhubung dengan Strategi Bisnis
Inovasi harus berangkat dari kebutuhan dan arah strategis perusahaan.
Strategi bisnis perlu diterjemahkan menjadi sasaran strategis, program, dan inisiatif inovasi yang jelas. Beberapa perusahaan menerapkannya melalui Strategic Map berbasis Balanced Scorecard, yang kemudian diturunkan hingga KPI pada tingkat individu.
Dengan demikian, setiap inisiatif inovasi memiliki keterkaitan yang jelas dengan pencapaian sasaran perusahaan.
Inovasi bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan instrumen untuk mewujudkan strategi.
Pilar 2. Innovation Portfolio – Menyeimbangkan Inovasi Saat Ini dan Masa Depan
Perusahaan perlu mengelola portofolio inovasi secara seimbang.
Terdapat dua kelompok penting:
- Incremental Innovation: inovasi untuk meningkatkan mutu, produktivitas, efisiensi, dan keunggulan operasional bisnis saat ini.
- Strategic Innovation: inovasi terobosan (breakthrough) untuk mengembangkan produk, layanan, model bisnis, dan peluang pertumbuhan baru.
Keduanya tidak boleh dipertentangkan.
Perusahaan membutuhkan inovasi untuk meningkatkan kinerja bisnis saat ini sekaligus mempersiapkan sumber pertumbuhan di masa depan.
Pilar 3. Human Capital – Manusia sebagai Penggerak Inovasi
Teknologi dan sistem tidak akan menghasilkan inovasi berkelanjutan tanpa dukungan manusia yang kompeten dan memiliki budaya inovatif.
Terdapat tiga aspek penting yang perlu dikembangkan:
- Innovation Culture: membangun lingkungan yang mendorong kreativitas, kolaborasi, dan keberanian mencoba hal baru.
- Digital Leadership: mengembangkan kepemimpinan yang mampu memahami perubahan teknologi dan mengarahkan transformasi.
- Learning & Development: memperkuat kompetensi, pembelajaran, serta sistem pengakuan dan penghargaan bagi insan yang berkontribusi dalam inovasi.
Inovasi harus menjadi bagian dari cara berpikir dan cara bekerja seluruh insan perusahaan, bukan hanya tanggung jawab unit R&D atau tim inovasi.
Pilar 4. Innovation Ecosystem – Memperkuat Kolaborasi dan Sinergi
Tidak semua pengetahuan dan kapabilitas inovasi harus dibangun sendiri oleh perusahaan.
Kolaborasi dengan pelanggan, pemasok, mitra bisnis, perguruan tinggi, lembaga penelitian, bahkan perusahaan dari industri yang berbeda dapat membuka peluang inovasi yang lebih luas.
Ekosistem inovasi memungkinkan perusahaan memperoleh perspektif baru, mengakses pengetahuan, mempercepat proses pembelajaran, dan mengembangkan solusi yang memiliki nilai tambah lebih besar.
Pilar 5. Innovation Governance & Systems – Memastikan Inovasi Berjalan secara Disiplin
Inovasi membutuhkan tata kelola yang jelas agar seluruh inisiatif dapat dilaksanakan, dipantau, dan dievaluasi secara konsisten.
Beberapa praktik yang diterapkan perusahaan meliputi:
- Sistem manajemen inovasi.
- Knowledge Management, termasuk pengembangan KM 4.0.
- Project Management untuk memastikan disiplin pelaksanaan inovasi.
- Struktur dan penanggung jawab inovasi yang jelas.
- Management Review untuk mengevaluasi kemajuan, hambatan, dan hasil inovasi.
Melalui tata kelola yang baik, inovasi tidak hanya menghasilkan ide, tetapi juga memastikan ide tersebut diwujudkan menjadi solusi dan memberikan dampak bisnis.
Kelima pilar tersebut bukanlah elemen yang berdiri sendiri. Semuanya harus bekerja sebagai satu kesatuan untuk membangun kapabilitas inovasi perusahaan secara berkelanjutan.
- Lima Key Takeaways: Apa yang Perlu Kita Lakukan?
Dari keseluruhan pembelajaran APQO International Conference ke-31, saya merangkum lima pesan utama yang relevan untuk menjadi perhatian para praktisi mutu, produktivitas, dan inovasi di Indonesia:
- AI Mengubah Cara Kita Mengelola Mutu.
Manajemen Mutu perlu bergerak dari pendekatan reaktif menuju sistem yang cerdas dan prediktif. AI dan Big Data harus dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas proses, mencegah ketidaksesuaian, dan menghasilkan keputusan yang lebih baik.
- Quality dan Innovation adalah Strategic Drivers of Competitiveness
Mutu dan inovasi bukan sekadar fungsi pendukung atau aktivitas operasional. Keduanya harus menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menciptakan nilai pelanggan, pertumbuhan bisnis, dan keunggulan kompetitif.
- Human Capital Tetap Menjadi Kunci Transformasi
Teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan dampak optimal tanpa manusia yang kompeten, kepemimpinan yang adaptif, budaya pembelajaran, dan kemampuan berinovasi.
- Innovation Harus Dikelola sebagai Integrated Management System
Inovasi tidak cukup hanya mengandalkan ide kreatif, kompetisi inovasi, atau proyek perbaikan. Inovasi yang berkelanjutan membutuhkan keterpaduan strategi, portofolio, manusia, ekosistem, dan tata kelola.
- Leadership Membutuhkan Ambidexterity
Pemimpin harus memiliki kemampuan ganda: menjaga dan meningkatkan keunggulan operasional bisnis saat ini (Exploitation), sekaligus mengeksplorasi peluang inovasi strategis untuk memenangkan persaingan masa depan (Exploration).
Inilah prinsip Ambidextrous Organization yang perlu menjadi bagian dari agenda transformasi perusahaan.
Organisasi tidak boleh terlalu sibuk mengelola bisnis hari ini hingga kehilangan kesempatan membangun masa depan. Sebaliknya, organisasi juga tidak boleh terlalu berorientasi pada masa depan hingga mengabaikan keunggulan operasional yang harus dicapai saat ini.
Keduanya harus berjalan beriringan.
- Call to Action: Exploit Today, Explore Tomorrow – Powered by SIM
Berbagai pembelajaran dari APQO International Conference ke-31 memberikan pengingat bahwa tantangan perusahaan saat ini bukan lagi sekadar bagaimana meningkatkan mutu, produktivitas, atau mengadopsi teknologi baru.
Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengintegrasikan seluruh kapabilitas tersebut menjadi kekuatan strategis perusahaan.
AI dan transformasi digital membuka peluang baru. Quality Excellence memastikan proses bisnis berjalan unggul. Strategic Innovation menciptakan peluang pertumbuhan dan keunggulan kompetitif di masa depan.
Namun, semuanya membutuhkan kepemimpinan yang tepat, sumber daya manusia yang kompeten, serta sistem manajemen yang mampu mengintegrasikan dan menggerakkan seluruh potensi organisasi.
Bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia, inilah saatnya bergerak lebih jauh: dari sekadar menjalankan program mutu menuju membangun organisasi yang memiliki kapabilitas inovasi secara berkelanjutan.
Mari kita bangun organisasi yang tidak hanya unggul hari ini, tetapi juga siap memenangkan masa depan.
EXPLOIT TODAY, EXPLORE TOMORROW – POWERED BY SIM.
- Terima kasih kepada seluruh pembicara yang telah berbagi pengetahuan dan praktik terbaiknya.
Penghargaan dan terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada Mr. Abraham Fenn, President of APQO, yang telah menyerahkan sertifikat apresiasi atas kontribusi saya dalam konferensi ini, kepada Pak Budihartono dan Bu Damayanti, Mas Reyza serta kepada seluruh panitia penyelenggara APQO atas kesempatan dan pengalaman yang sangat berharga.
Semoga pembelajaran ini dapat memperkaya wawasan dan mendorong kontribusi lebih besar dari komunitas AMMPI dalam membangun budaya mutu, produktivitas, dan inovasi di Indonesia.
Share Knowledge. Learn from Best Practices. Drive Innovation. Create Sustainable Impact.
(Salam Pembelajar, AGUNG YUNANTO)





