Penulis : Suradi-GKM Subuhan
Yogyakarta Istimewa. Yogyakarta atau Jogja benar-benar istimewa. Sebutan ini bukan sekadar slogan, melainkan pengakuan atas sejarah panjangnya, kebudayaan yang terus lestari dan statusnya sebagai Daerah Istimewa yang memiliki sistem pemerintahan kerajaan (Kesultanan Yogyakarta) di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pesona dan fakta yang membuat Jogja selalu di hati antara lain pusat budaya & sejarah. Sebagai ‘Kota Pelajar’ dan budaya, Jogja adalah rumah bagi bangunan megah bersejarah seperti Keraton Yogyakarta dan Candi Prambanan. Landmark ikonik : menikmati suasana malam di sepanjang Jalan Malioboro, berkunjung ke Titik Nol Kilometer, atau merasakan magisnya panorama Gunung Merapi. Keindahan Alam : Dari sejuknya lereng Merapi hingga deretan pantai eksotis di kawasan Gunungkidul. Kuliner legendaris : menikmati manisnya gudeg, sate klatak yang khas, atau sekadar wedang ronde di angkringan pinggir jalan dengan harga yang sangat terjangkau. Seni & musik : kreativitas seni tak pernah mati. Selain itu dalam upaya mengharmoni dan mengorkestrasi dinamika kehidupan di Yogyakarta juga ada sebuah masjid yang ikonik dengan jumlah jamaah sholat berjamaahnya penuh di ruangan masjid yang melegenda yaitu masjid Jogokariyan.
Istiqomah dan berkelanjutan. Layaknya memutar siklus Plan Do Check Action (PDCA) maka untuk tetap menjaga keistiqomahan dan berusaha tumbuh berkelanjutan merupakan tantangan tersendiri dan menjadi peluang untuk beramar ma’ruf nahi munkar, berlomba dalam kebaikan dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati menetapi kesabaran. Itulah kiprah GKM Subuhan yang memanfaatkan peluang untuk mengharmoni dan mengorkestrasi dinamika kehidupan.
GKM Subuhan putar PDCA kembali. Kali ini di pekan ketiga Mei 2026 di Yogyakarta Istimewa menjadi tempat penyelenggaraan event nasional mempunyai alasan dan pertimbangan tersendiri diantaranya Yogyakarta sebagai destinasi wisata yang memiliki daya magnit dan daya magis para peserta dengan berbagai keunikan dan beragam kulinerannya.
Inilah kesempatan berharga bagi GKM Subuhan untuk memutar PDCA. Dimana bumi dipijak disitu masjid dimakmurkan. Berikut ini 3 masjid di Yogyakarta Istimewa yang menjadi tempat GKM Subuhan memutar PDCA.
1. Masjid Kampus UGM
Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (disingkat Maskam UGM) adalah sebuah masjid kampus milik Universitas Gadjah Mada yang terletak di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid ini terletak di Jalan Olahraga, Bulaksumur, Caturtunggal, Depok, Sleman.
Sebelum Masjid Kampus UGM dibangun, Masjid Mardliyyah yang terletak di barat Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi telah lebih dahulu berdiri pada tahun 1968 dengan nama formal “Masjid Kampus UGM”. Walau demikian, aktivitas keagamaan di dalam kampus UGM masih dipusatkan di Gelanggang Mahasiswa UGM. Rektor UGM 1986–1990 Koesnadi Hardjasoemantri kemudian menggagas pendirian masjid ini.
Masjid Kampus UGM pertama kali dibangun pada bulan Mei 1997 di bekas komplek pemakaman Tionghoa. Pembangunan masjid ini dikerjakan seluruhnya oleh mahasiswa Teknik Arsitektur UGM dan untuk menyelesaikan pembangunannya menghabiskan dana sebesar Rp 9,5 miliar. Kemudian masjid ini digunakan untuk pertama kalinya pada tanggal 4 Desember 1999, menjelang dies natalis UGM ke-50.

GKM Subuhan bersiklus PDCA perdana. Di Yogyakarta Istimewa menikmati indah dan berkahnya Safari Rabu Subuh di masjid kampus UGM ini tepatnya pada Rabu, 20 Mei 2026. Pagi itu sebelum adzan Subuh berkumandang kami bersiap-siap di lobi penginapan sambil menunggu berkumpulnya anggota GKM Subuhan. Meski melawan rasa kantuk dan capek seharian berkarya namun tidak menyurutkan ghirah untuk bergegas berangkat dengan mengendarai sebuah kendaraan roda empat menembus gelapnya pagi dan keheningan di sepanjang perjalanan.
Alhamdulillah sekitar 15 menit kami tiba di masjid Kampus UGM. Setelah menempuh beberapa menit perjalanan akhirnya kendaraan yang ditumpangi GKM Subuhan sampai di area kampus UGM. Dari kejauhan nampak menara suatu masjid yang begitu tinggi dengan hiasan lampu yang artistik dan atraktif. Memasuki area parkir yang cukup luas dan berdekatan akses masuk ke masjid Kampus UGM. kamipun disapa dengan seorang petugas security yang berjaga dengan saling mengucapkan salam dan menyapa dengan penuh keramahan. Semakin dekat semakin jelas ruang utama masjid Kampus UGM yang luas dengan berhiaskan lampu bertaburkan cahaya.
GKM Subuhan langsung mengambil posisi shof sholat terdepan dan ada seorang jamaah yang dibantu kursi roda duduk di belakang persis posisi imam sholat. Setelah iqomah berkumandang seluruh jamaah merapat di shof terdepan untuk sholat subuh berjamaah. Dengan penuh kekhusyukan dan khidmat para jamaah mengikuti rangkaian sholat subuh secara berjamaah. Masjid Kampus UGM berada di lingkungan kampus sehingga merepresentasikan masjid dengan nuansa multidimensional dengan jamaah beragam latar belakang, asal domisili dan disiplin ilmu atau keahlian yang dimiliki.
2. Masjid Jogokariyan
Masjid Jogokariyan adalah masjid di Jalan Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi masjid ini juga berdekatan dengan Pondok Pesantren Krapyak[1] yang sama-sama memiliki nilai sejarah panjang, terutama jika dikaitkan dengan keberadaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Masjid Jogokariyan didirikan oleh pengurus Muhammadiyah Ranting Karangkajen sebagai media dakwah untuk memperkuat dan menginternalisasi nilai-nilai keislaman ke dalam diri penduduk di sekitar masjid.
Masjid Jogokariyan awal mula dibangun pada tahun 1966. Pembangunan Masjid Jogokariyan tidak terlepas dari dinamika sosial yang terjadi di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada waktu itu, Sultan Hamengkubuwono membuka Kampung Jogokariyan karena sesaknya ndalem Beteng Baluwerti di Keraton. Maka, bergodo-bergodo Prajurit Kesatuan Keraton dipindahkan ke selatan benteng, tepatnya di utara Panggung Krapyak atau Kandang Menjangan. Tempat itu kemudian dijadikan tempat tinggal para prajurit keraton yang sesuai dengan Toponemnya dinamakan “Kampung Jogokariyan”.
Dalam perkembangannya, Sultan Hamengkubuwono VII juga membuat kebijakan yang berhubungan dengan relokasi prajurit keraton. Bedanya, Sultan Hamengkubuwono VII memindahkan mereka ke Kampung Krapyak karena adanya penyempitan jumlah prajurit keraton yang semula 750 orang menjadi hanya 75 orang. Jumlah tersebut dipekerjakan keraton untuk kepentingan upacara saja, bukan lagi untuk perang. Para prajurit kemudian banyak yang kehilangan jabatan dan pekerjaan sebagai abdi dalem. Selama menjadi abdi dalem, mereka yang awalnya gemar berjudi dan mabuk-mabukan kini harus mengganti matapencahariannya sebagai petani.
Di kampung Jogokariyan, mereka juga diberikan sepetak tanah oleh keraton. Banyak di antara mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya itu hingga kemudian memutuskan untuk menjual sawah mereka kepada pengusaha batik dan tenun. Majunya usaha batik dan tenun di Kampung Jogokariyan adalah awal mula dari potret buram kehidupan para mantan abdi dalem keraton. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi buruh di pabrik-pabrik tenun dan batik tersebut. Para keturunan mereka pun demikian, banyak yang menjadi buruh di bidang industri itu. Mereka menjadi miskin di tanah mereka sendiri seiring semakin majunya usaha batik dan tenun milik para pendatang.
Bersamaan dengan fenomena tersebut, muncullah gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang salah satunya menjadikan Kampung Jogokariyan sebagai basis pergerakannya. Gerakan PKI disambut dengan sangat antusias oleh para mantan abdi dalem yang kebanyakan adalah petani dan buruh yang kehidupan ekonomi-nya jauh dari dikatakan baik. Hingga pada tahun 1965, meletus gerakan G30S yang banyak menangkap serta memenjarakan warga-warga sipil yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Momentum tersebut adalah masa dimana Kampung Jogokariyan dikenal sebagai sarang Komunisme. Selain komunis, mereka juga dikenal sebagai penganut agama Islam abangan yang lebih banyak mempraktikan ajaran Islam kejawen. Hal itu merupakan pengaruh dari lingkungan keraton yang menjadi basis kehidupan mereka sebelum pindah ke Kampung Jogokariyan.
Dibangunnya masjid Jogokariyan di tengah latar belakang penduduk yang demikian dinilai sebagai upaya untuk menanamkan kembali nilai-nilai Islam yang kaffah kepada penduduk di Kampung Jogokariyan. Sebelumnya, di kampung tersebut belum memiliki masjid. Segala aktivitas keagamaan dilakukan di sebuah langgar kecil berukuran 3 x 4 meter persegi yang berada di pojok kampung atau tepatnya terletak di RT 42 RW 11 (sekarang menjadi rumah keluarga Bapak Drs. Sugeng Dahlan). Akibatnya, ketika hari-hari istimewa bagi pemeluk agama Islam tiba, seperti bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, suasana di langgar dan di Kampung Jogokariyan sangat sepi. Dibangunnya Masjid Jogokariyan pada tahun 1966 bertujuan untuk menghidupkan kembali nuansa Islami di Kampung Jogokariyan.

GKM Subuhan putar PDCA kedua. Pada siklus PDCA kedua ini tepatnya Kamis, 21 Mei 2026 alhamdulillah anggota GKM Subuhan tetap istiqomah menjalankan rangkaian ibadah safari Subuh dari masjid ke masjid. Masjid Jogokariyan yang menjadi pilihan ini terletak di tengah-tengah kompleks perumahan sehingga kehadiran kami langsung berbaur dengan jamaah lokal dan jamaah yang sedang menjalani safar. Auranya memang berbeda dengan desain masjid yang masih mempertahankan desain aslinya dan memiliki kekhasan tersendiri yang melambangkan bentuk toleransi keberagaman dalam kebhinekaan.
Usai sholat subuh berjamaah diisi dengan kultum subuh dengan jamaah penuh di ruangan utama hingga teras masjid Jogokariyan. Tak lupa setelah selesai mengikuti kultum yang mengambil topik tentang makna qurban maka kamipun mengunjungi angkringan atau stand jualan makanan dan atau minuman di sekitar masjid Jogokariyan. Ada yang minum wedang jahe, susu segar, thiwul makanan khas Jawa dan menu lainnya. Inilah satu dari sekian banyak kekhasan masjid Jogokariyan dengan memberdayakan ekonomi produktif oleh umat atau warga di sekitar masjid Jogokariyan (kearifan lokal).
3. Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta
Masjid Gedhe Kauman dikenal sebagai Masjid Agung Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah masjid utama Kesultanan Yogyakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun Utara.
Masjid Gedhe Kauman dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama) dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M atau 6 Rabiulakhir 1187 H.[1] Pendirian masjid ini menegaskan identitas Kerajaan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam yang tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Jawa. Lokasinya yang strategis, terletak di sebelah barat Alun-Alun Utara dan berdekatan dengan Keraton Yogyakarta, mencerminkan konsep tata ruang tradisional Jawa di mana masjid, pusat pemerintahan, dan pusat ekonomi berada dalam satu kawasan.
Masjid Gedhe Kauman menampilkan arsitektur tradisional Jawa dengan atap bersusun tiga yang dikenal sebagai Tajug Lambang Teplok. Desain ini melambangkan tiga tahapan dalam pencapaian kesempurnaan hidup manusia: syariat, hakikat, dan ma’rifat. Pada puncak atap terdapat mustaka berbentuk daun kluwih dan gadha yang melambangkan keistimewaan bagi individu yang telah mencapai kesempurnaan hidup dan keesaan Allah. Selain itu, masjid ini dikelilingi oleh tembok tinggi dengan gerbang utama di sisi timur yang dikenal sebagai gapura Semar Tinandu, melambangkan tokoh Semar yang memberikan perlindungan dan teladan bagi para raja dan kesatria.
Sejak didirikan, masjid Gedhe Kauman telah mengalami beberapa kali pengembangan dan renovasi. Pada tahun 1775, serambi masjid dibangun untuk menampung jumlah jamaah yang semakin meningkat. Serambi ini berbentuk limasan persegi panjang terbuka dan berfungsi sebagai ruang serbaguna. Di sisi utara dan selatan halaman masjid, dibangun dua ruang pagongan yang digunakan untuk menempatkan gamelan saat perayaan Sekaten, sebuah tradisi yang masih dilestarikan hingga kini. Pada tahun 1867, setelah gempa bumi yang melanda Yogyakarta, serambi masjid diperluas dua kali lipat dari ukuran semula untuk mengakomodasi kebutuhan jamaah. Renovasi lainnya dilakukan pada tahun 1933 dengan merombak atap masjid untuk memperkuat struktur dan estetika bangunan.
Masjid Gedhe Kauman merupakan simbol akulturasi antara budaya Jawa dan Islam. Hal ini tecermin dari berbagai ornamen dan struktur bangunan yang menggabungkan unsur-unsur seni Jawa klasik dengan nilai-nilai Islam. Misalnya, penggunaan atap tajug bersusun tiga melambangkan konsep spiritualitas dalam Islam, sementara ukiran-ukiran pada tiang dan dinding masjid mencerminkan keindahan seni ukir tradisional Jawa. Selain itu, adanya kolam atau blumbang yang mengelilingi serambi masjid berfungsi untuk membersihkan kaki sebelum memasuki area utama, mencerminkan pentingnya kesucian dalam ajaran Islam sekaligus mengikuti tradisi lokal.

GKM Subuhan putar PDCA ketiga. Pada Jumat, 22 Mei 2026, alhamdulillah tetap istiqomah jalankan perintah sholat subuh berjamaah dengan berkendara 1 mobil menuju lokasi masjid tujuan yaitu masjid Gedhe Kauman. Jarak tempuh ke masjid ini lebih jauh dari pada masjid Kampus UGM namun anggota GKM Subuhan tetap bersemangat. Aura masjid Gedhe Kauman ini semakin berasa suasana kraton Yogayakarta karena dari sisi bangunan baik eksterior maupun interiornya berornamen kraton Yogyakarta sehingga merepresentasikan masjid yang menjaga historikal kultural.
Usai iqomah maka para jamaahpun mulai merapat di belakang imam. Sebanyak 5 sampai dengan 6 shof para jamaah mendengarkan kemerduan suara imam sholat subuh. Jamaah subuh di masjid Gedhe Kauman ini sangat variatif mulai dari yang muda sampai dengan yang senior. Hal lain yang menarik adalah keramahan para jamaah lokal dalam menyapa sesama jamaah. Buktinya ketika kami menanyakan lokasi bangunan warisan budaya Langgar KH Ahmad Dahlan meskipun belum kenal namun langsung ditunjukkan dan dijelaskan arah dan rutenya. Akhirnya GKM Subuhan usai sholat subuh berjamaah di masjid Gedhe Kauman menuju ke bangunan Langgar KH Ahmad Dahlan yang berjarak kurang lebih 250 meter.Sebuah bangunan yang bersejarah dan menjadi tempat perjuangan pelaku sejarah.
Berbagi ilmu, ibrah dan hikmah. Perjalanan dan perjuangan panjang GKM Subuhan di Yogyakarta Istimewa kali ini meretas banyak ilmu, ibarah dan hikmah antara lain ikhtiar untuk memakmurkan masjid, menembus batas untuk penguatan spiritualitas dan kualitas. Obsesi masjid best practice dan role model yang ramah keberagaman dan bangunan warisan budaya oleh para pelaku sejarah menjadi destinasi wisata religi untuk membuka mata hati.
Harapan ke depan semoga GKM Subuhan tetap dan terus istiqomah di tempat lainnya dan memutar PDCA berikutnya dengan lokasi masjid yang berbeda untuk menambah khasanah ilmu, ibrah dan hikmah dengan spirit penguatan spiritualitas dan kualitas secara berkelanjutan.
Yogyakarta kota yang indah, banyak tempat menjadi pembelajaran .
Ber GKM Subuhan terus beristiqomah, tebarkan manfaat dan kebaikan
Bakpia Yogya rasanya enak, dimakan bersama teman.
Dimana bumi dipijak, disitu masjid kita makmurkan.





