Spiritualitas Tingkatkan Produktivitas Negeri dengan SADAR

Oleh : Suradi, SE, MM, CPS

Halal Bi Halal dan Pelantikan Kepengurusan DPP AMMPI 2025-2028. Dalam kesempatan yang berharga dan langka tepatnya pada Sabtu, 11 April 2026 diselenggarakanlah  acara Halal Bi Halal dan Pelantikan Kepengurusan DPP AMMPI 2025-2028. Hal ini menjadi momentum penting dan strategis bagi organisasi Asosiasi Manajemen Mutu dan Produktivitas Indonesia (AMMPI) atau Indonesia Quality & Productivity Management Association (IQPMA) yang telah dan terus berkiprah dan berkarya sebagai anak bangsa  baik di tataran nasional maupun international. Relevan dengan tagline AMMPI Kontribusi untuk Negeri semakin memperkuat komitmen dan konsistensi para pejuang AMMPI berkontribusi untuk organisasi dan negeri.

Acara yang bertajuk Halal Bi Halal 1447H dan Pelantikan Kepengurusan DPP AMMPI 2025-2028 ini mengambil tema sentral “Kita rajut silaturahmi dan sinergi untuk meningkatkan produktivitas negeri.”    Untuk mengharmonisasikan agenda acara yang padat dan ketat serta adaptif terhadap dinamika landscape yang terjadi  maka diagendakan sharing session berjudul “Spiritualitas Tingkatkan Produktivitas Negeri dengan SADAR” dengan penyaji  Suradi, SE, MM, CPS yang pernah mengemban amanah Ketua Umum DPP AMMPI periode sebelumnya (2022-2025).

Pendahuluan.  Produktivitas tenaga kerja Indonesia tahun 2025 diproyeksikan mencapai puncaknya dengan nilai Rp92,67 juta per tenaga kerja, meningkat 3,75% dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh kolaborasi lintas sektor dan adopsi teknologi digital melalui inisiatif seperti Indonesia Productivity Summit 2025.  Berikut poin penting terkait produktivitas Indonesia 2025.

  • Peningkatan Nilai : Berdasarkan data dari satudata.kemnaker.go.id, produktivitas tenaga kerja pada 2025 mencatatkan angka tertinggi sebesar Rp92,67 juta/tenaga kerja, menandai pertumbuhan positif.
  • Gerakan Nasional: Kementerian Ketenagakerjaan menggagas gerakan nasional dan Indonesia Productivity Summit 2025 untuk memperkuat kolaborasi pemerintah, industri, dan akademisi.
  • Transformasi Digital : Fokus utama peningkatan produktivitas didorong oleh akselerasi adopsi digital di berbagai sektor industri.
  • Fleksibilitas Kerja : Pemerintah mendorong inisiatif Work From Mall (WFM) pada akhir 2025 untuk menjaga produktivitas kerja yang fleksibel dan efisien.
  • Master Plan : Bappenas menyiapkan Master Plan Produktivitas Nasional 2025–2029 untuk mempercepat transformasi ekonomi. 

Produktivitas kerja di tahun 2025 menunjukkan hasil positif dari upaya peningkatan konsisten selama 5 tahun terakhir sehingga  produktivitas terus meningkat dari angka Rp83,48 juta pada 2020.

Approach. Mengawali sharing session spesial Halal Bi Halal 1447H maka Suradi mengajak peserta Halal Bi Halal yang beragama Islam untuk membuka kembali kitab suci Al Quran khususnya pada surat Ali Imran ayat 104 yang artinya  “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS 3 : 104).

Yang menjadi learning point adalah terdapat 2 dimensi. Pada dimensi hasil adalah orang yang beruntung dan pada dimensi proses menyeru kebajikan, menyuruh  yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Intinya ketika kita  berkomitmen menjadi orang yang beruntung (dimansi hasil) maka ada 3 persyaratan utama yaitu  menyeru kebajikan, menyuruh  yang ma’ruf dan mencegah yang munkar (dimensi proses).

Di sisi lain ada sebuah riawayat tentang 3 golongan manusia. Golongan yang pertama golongan manusia yang beruntung   “Hari ini lebih baik daripada kemarin” maka termasuk golongan orang yang beruntung. Golongan kedua orang yang merugi  “Hari ini sama dengan kemarin” maka  termasuk golongan orang yang merugi, Golongan yang ketiga golongan orang yang terlaknat “Hari ini lebih jelek daripada kemarin” adalah  golongan orang yang terlaknat.

Mengarungi samudera kehidupan dengan SADAR. Dalam konteks kali ini SADAR merupakan sebuah akronim yang bermakna Spiritual touch, Awareness, Dedication, Achievable & Responsibility. Bagaimana mendiskripsikannya secara sederhana dan mudah dipahami berikut ini pemaknaannya.

Spiritual Touch. Dalam hingar bingar urusan dan kesibukan di dunia telah diatur suatu regulasi dan juga tradisi yang menjadi kearifan lokasi. Dalam urusan di dunia dan di akherat selayaknya kita membuka kembali sebuah riwayat. “Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku, keduanya tidak akan berpisah, sehingga keduanya datang kepadaku di Telaga (al-Haudh).” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Yang menjadi learning point  bagi kita secara personal pentingnya pendekatan secara spiritual dalam mengharmonikan keshalehan atau kecerdasan yang dimiliki seseorang. Secara komunal dalam berorganisasi atau bekerja di suatu perusahaan  terdapat visi, misi, strategi, sasaran,  target dan  program kerja meurujuk ke upaya pencapaian Key Perfirmance Indicator atau KPI.

Awareness. Kesadaran baik secara personal maupun secara komunal menjadi kata kunci bagi kita untuk melakukan instrospeksi diri. Dalam Al Quran terutama di surat Al Hasyr ayat 18  membeikan petunjuk bagi hamba-hamba Nya. “ Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS 59 : 18)

Yang menjadi ibrah dan hikmah bagi kita adalah maei kita melakukan koreksi diri  dengan mengidentifikasi apa saja yang lebih  dominan yang sudah dilakukan. Apakah lebih dominan kebaikan atau sebaliknya? Bangun semangat perbaikan diri dengan mengoptimalkan apa saja yang menjadi Strenght (S) dan menindaklanjuti apa yang menjadi Opportunity For Improvement (OFI). Ketika kita berada atau pada posisi best performance maka usahakan tetap dan terus mawas diri dengan melakukan preventive action dan mitigation risk.  Jangan lupa untuk tetap dan terus berkomitmen dan berkonsistensi diri di jalan kebaikan serta bersyukur. Karena pada prinsipnya ketika kita bersyukur atas nikmat yang diterima maka akan ditambah nikmat tersebut.

Dedication. Dalam mengarungi samudra kehidupanmulai bangun tidur, persiapan beraktivitas menuju tempat kita berprofesi, di tengahnya kita beraksi sesuai profesi kita masing-masing dan akhirnya kembali ke tempat tinggal dan beristirahat kemudian memutar siklus PDCA kehidupan di hari berikutnya. Adakah terpikir oleh kita sebenarnya aktivitas  tersebut kita dedikasikan atau persembahkan untuk apa dan untuk siapa?

Selayaknya kita membuka kembali cahaya, petunjuk dan rakhmat yang tertuang dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 :    “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS 51 : 56).  

Maka ada ibrah dan hikmah mari kita luruskan niat segala aktivitas ini adalah kita dedikasikan atau persembahkan untuk beribadah kepada Allah. Dengan meluruskan niat aktivitas kita untuk beribadah maka semakin bersemangat dalam bekerja, semakin produtif hasilnya dan semakin terjaga hidup ini di jalan kebaikan. Jalankan aktivitas kehidupan secara proporsional dengan mengharmonikan kecerdasan individual, kecerdasan sosial dan kecerdasan profesional dalam kerangka spiritualitas tingkatkan produktivitas negeri sesuai kompetensi yang kita miliki atas karunia Allah.

Achievable. Dalam mengisi hidup dan kehidupan ini kita terpolarisasi oleh dua kondisi yaitu kondisi  before dan after sehingga bisa membandingkannya apakah target baik secara personal maupun komunal sudah tercapai atau belum, bila sudah tercapai  seberapa besar pertumbuhannya, bila belum tercapai apa saja yang menjadi action plan berikutnya untuk melakukan review yang outputnya adalah innovation atau improvement.

Begitu penting dan strategisnya manajemen waktu dalam mencapai target tersebut maka dalam Islam ada petunjuk dan pedoman hidup yang tertuang dalam Al Quran khususnya Surat Al Ashr ayat 1-3 : “ (1) Demi masa, (2) sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,(3) kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS 103 : 1-3)

Proses pembelajaran dan hikmah bagi kita adalah mari kita lebih baik lagi dalam menghargai waktu, lebih produktif dalam beraktivitas secara sistemik (input-proses-output) bahwa  hari ini lebih baik daripada kemarin. Melakukan evaluasi atau review kondisi Before vs After dan untuk pencapaiannya perkokoh silaturahmi dan sinergi untuk tingkatkan produktivitas negeri.  

Responsibility. Dalam menjalani kehidupan ini banyak aktivitas yang kita lakukan baik secara vertikal yang berhubungan dengan Sang Khalik (Hablum minallah), dengan sesaama manusia (hablum minannas) dan juga dengan alam di sekitarnya (hablum minal ‘alam).

Dalam Al Quran surat Al Muddasir ayat 38 : “Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan” (QS 74 : 38).

Oleh karena itu menjadi petunjuk, pengingat dan penyemangat kita agar dalam bertindak senantiasa lebih mengutamakan preventive action dan melakukan mitigation risk menjadi insan ihsan karena pada dasarnya setiap perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan baik di dunia untuk patuh dan taat dengan aturan yang ada maupun di akherat yang kekal di dalamnya. Bahkan pertanggungjawaban kita di akherat yang akan  menjawabnya adalah anggota tubuh kita. Untuk apa tangan kita gunakan untuk berbagi dengan sesama atau mempersulit sesama, kemana saja kaki melangkah apakah di jalan kebaikan atau maksiat, dipake apa saja mata untuk melihat apakah melihat yang bermanfaat atau yang mudharat, mengucapkan apa saja mulut kita apakah jujur atau berbohong dan lainnya.  

Momentun perubahan yang semakin baik, produktif dan berkelanjutan. Di penghujung penyajian materi sharing session dapat disimpulkan mari kita jadikan Ramadan dan  Idul Fitri  bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai momentum perubahan. Mari kita jadikan pribadi kita, pribadi yang lebih produktif dan mari kita jadikan kompetensi yang dimiliki  untuk  meningkatkan produktivitas negeri. Spirit Ramadan (pendidikan), spirit Idul Fitri (kemenangan), spirit Syawal (peningkatan)   bukan ending point justru menjadi starting point untuk tetap dan terus istiqomah serta mewarnai  bulan-bulan berikutnya.  Semoga setelah Ramadan dan Idul Fitri berlalu, semangat meningkatkan produktivitas negeri  tetap hidup dan berkibar.

Untuk mengorkestrasikan perjalanan dan perjuangan hidup kita ini ada baiknya berkotemplasi sejenak melalui pantun bernasehat berikut ini.

Ada pesta ada hadiah,

Hadiah dibuka isinya tas gucci.

Indahnya berbagi ilmu dan hikmah,

Bersama tingkatkan produktivitas negeri

Bunga melati sungguh menawan,

Warnanya memikat putih berseri.

Mari kita satukan hati dalam keberagaman,

Tetap semangat tingkatkan produktivitas negeri.

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *